Kita dan Dunia
Selamat hari Senin semua! I know almost everyone hate Monday, that's why I'm cheering for all of you this morning! Selamat beraktivitas di hari yang cerah ini!
Jadi, sesuai janji gue, gua akan mulai nge-post lagi. Weekend kemarin, gue sedang tidak di Jakarta, karena itu gue belum sempat menulis lagi. Tapi banyak ide 'berloncatan' untuk materi-materi yang pengen banget gue tulis di blog ini. Setelah beberapa hari memilah-milih akhirnya hari ini gue memutuskan untuk memilih tema Sejarah hari ini.
STOP!
Jangan berani-berani tinggalkan web ini karena tema-nya Sejarah! Gue yakinkan kalian semua kalau yang akan gue bicarakan bukan tentang tanggal, tahun, ataupun peristiwa. Percaya tidak percaya, gue sendiri sebagai mahasiswa sejarah juga bosan kalau pembahasan sejarah cuman berkisar di tiga hal itu aja.
Jadi kira-kira apa yang hari ini mau gue bahas?
Simple aja kok. Gue mau mengajak teman-teman sekalian untuk berpikir ulang tentang apa sih sebenarnya sejarah itu?
Jawaban yang paling klasik atas pertanyaan di atas adalah: Masa Lalu. Atau ada juga yang menjawab: Peristiwa-peristiwa penting yang sudah terjadi. Nah, gue sendiri bukan pakar atau ahli sejarah. Gue nggak belajar bagaimana caranya jadi sejarawan. Tetapi sebagai orang yang belajar sejarah, gue agak sanksi sama dua jawaban di atas. Karena itu gue ingin bertanya sama para pembaca: Benar nggak sih sejarah itu cuman sekadar masa lalu?
Gue akan menjelaskan sedikit mengenai apa yang ada di alam pikiran gue mengenai Sejarah.
Sejarah, sejauh yang gue pelajari, mempunyai tiga hal penting di dalamnya. Katakan tiga hal ini tiga unsur dalam sejarah, jadi secara logika, kalau salah satu dari tiga hal ini nggak ada dalam satu kejadian atau fenomena, berarti kejadian itu bukan sejarah.
Pertama, sejarah itu pasti berbicara tentang waktu. Waktu yang gue maksud di sini adalah masa lalu. Nah sampai disini, arti singkat dari sejarah di atas masih oke. Tapi masih belum cukup. Gue ngga akan menyebut-nyebut contoh sejarah yang kita pelajarin di sekolah ya. Kita coba ingat-ingat aja kejadian yang kita lalui sehari-hari.
Misalnya, kalian mengadakan reuni sama teman-teman SMP atau SMA. Nah, waktu kalian ketemu pasti bermacam-macam yang kalian obrolin. Tapi salah satu hal yang pasti kalian lakukan waktu bertemu teman lama adalah bernostalgia.
"Eh, inget nggak, pas kita kelas XI itu, kita bolos bareng-bareng pelajaran si pak anu. Pas ketauan di hukum, disuruh ngukur panjang lapangan pakai penggaris!"
Nah, kata-kata, 'pas kita kelas XI' itu merujuk pada waktu. Masa lalu. Artinya udah terjadi. Tapi kalau cuman itu, masih belom bisa disebut Sejarah. Jadi kita lanjut ke unsur kedua.
Yang kedua, Sejarah, selain membicarakan tentang waktu, pasti juga membicarakan ruang. Maksudnya ruang adalah tempat atau lokasi. Contohnya: "Eh dulu kita pergi study tour kemana ya? Pas si anu jatuh dari candi itu lho!"
"Oh itu di Jogja! Pas kita lagi di Candi Ratu Boko!" Nah, kalimat ini merujuk pada ruang, lokasi, tempat. Gue tau kalian pasti bertanya-tanya, "Terus bedanya kejadian sehari-hari sama sejarah apaan?"
Sabar, oke? Gue akan menjawab pertanyaan itu setelah gue jelasin unsur yang terakhir.
Unsur yang terakhir adalah manusia. Yang terakhir ini adalah yang terpenting dibanding dua unsur sebelumnya. Kenapa? Karena ini ciri-ciri yang paling menentukan. Kalau suatu peristiwa bukan terjadi karena aksi manusia, berarti itu bukan sejarah. Contohnya nih: bencana alam. Kayak Tsunami di Aceh tahun 2004, walaupun itu peristiwa besar dan menelan banyak korban, we can't exactly called it history, karena kejadian itu nggak disebabkan oleh tangan manusia.
Lah, terus apaan sih bedanya sejarah sama sosiologi? Buat apaan sih sejarah? Orang-orangnya pada udah mati juga ngapain diinget-inget? Tuh, pertanyaan yang begini nih yang bahaya. Ini sih pertanyaan orang-orang yang susah move on nih.. #eh
Jadi begini kawan-kawanku. Buat gue, sejarah itu bukan cuma sekedar tiga unsur diatas. Tiga hal yang sebutkan tadi itu penting, untuk mempelajari sejarah formal. Tapi gue nulis disini bukan untuk memberi thu kalian sejarah yang udah diajarkan di sekolah.
Terkadang orang yakin begitu aja kalau sejarah yang diajarkan di sekolah itu udah pasti benar. Well, gue bukannya bilang yang diajarkan di sekolah itu salah. Tapi begini singkatnya: Misalnya, ada mobil dan motor yang terlibat kecelakaan lalu lintas di jalanan. Kecelakaan kecil lah ya. Waktu polisi bertanya sama pengendara mobil, pengendara mobil menjawab, "Pengendara motor itu motong jalan saya dari arah yang berlawanan!". Tapi waktu polisi bertanya sama pengendara motor, dia jawab, "Mobil itu masih jauh. Tapi waktu saya mau belok itu mobil malah nge-gas!"
Permasalahannya, pas kejadian, si pak polisi nggak ada di tempat kejadian, jadi pak polisi nggak tau persis cerita yang mana yang benar. Pengendara mobil dan motor pasti sama-sama merasa benar. Terus siapa dong yang salah?
Yang gue ceritain itu adalah masalah beda perspektif. Kasarnya, cuman Tuhan deh yang tahu mana yang benar dan mana yang salah. Manusia cuman bisa dengar kejadiannya dan pilih salah satu versi yang dia percaya.
NAAH.. Sejarah juga sama. Begitu juga. Banyak versinya.
Kalian mungkin mikir, "Terus yang mana sejarah yang benar? Apa semuanya cuman tebak-tebak berhadiah?"
Jawaban yang bisa gue sediakan adalah, nggak penting yang mana yang benar. Waktu kita ada di posisi si pengendara mobil atau motor barusan, setelah kejadian tabrakan itu, idealnya kita bilang sama diri kita sendiri, "Oh, gue motong jalan orang ya? Oh, gue nge-gas tiba-tiba ya? Oh, mungkin gue kali yang salah. Oh, mungkin gue kali yang kurang hati-hati. Lain kali lebih hati-hati deh."
Idealnya siih, begitu. Jadi intinya, kita belajar melihat sesuatu bukan dari kacamata kita aja, tapi jadi kacamata orang lain juga. Walaupun kita pengendara mobil, kita harus coba berpikir dari kacamata pengendara motor, begitu juga sebaliknya.
Dalam sejarah, begitu juga. Waktu kita belajar sejarah rasisme di Amerika, kita bisa bilang, "Ih gila ya, nggak bener tuh. Jahat tuh! Masa gara-gara warna kulitnya hitam terus nggak punya hak ngapa-ngapain.."
Tapi ya jangan berenti sampai disitu aja. Percuma aja waktu kita belajar sejarah Rasisme di sekolah dan bisa bilang itu salah tapi ternyata di luar ruang kelas bisa bilang, "Ah, dasar CINA! Turun aja lu, nggak pantes lu megang jabatan itu!"
#EHEM
Oke, jadi balik lagi ke fokus. Kenapa sih gue ngomongin ini di post kedua? Pertama lah ya, berhubung ini materi pertama yang gue tulis di sini.
Kata-kata, "Coba deh lo bayangin! Coba deh lo ngertiin gue" itu adalah kata-kata yang paling sering kita dengar, tapiterkadang ternyata sulit dilaksanakan. Solusi yang gue sodorkan adalah, mari kita berpikir historis (Apaan pula nih?). Maksudnyaaa, cobalah, ketika melihat sesuatu, kita lihat itu dari berbagai sudut pandang, bukan dari satu saja. Dengan begitu niscaya kita bisa menjadi orang yang lebih bijak (HALAH).
Oke, jadi begitu saja post hari ini. Harapan gue adalah, setelah membaca tulisan gue hari ini, lebih mudah buat kalian untuk memahami post-post gue yang selanjutnya, karena baik dalam review novel, komik, film, maupun, drama, gue akan menjelaskan dengan cara yang sama, yaknii dari berbagai perspektif.
Makasih buat kawan-kawan yang masih betah baca post hari ini. Gue yakin kalian-kalian yang membaca tulisan ini sampai selesai adalah pembaca yang sabar atau kalian memang lagi ngga ada kerjaan.. HAHAHA
Untuk tulisan berikutnya, rencananya gue akan menulis tentang literatur, lebih tepatnya tentang:
~DONGENG~
Bingung? Penasaran? Atau bodo amat? :')
Please stay tuned and keep reading!
Jadi, sesuai janji gue, gua akan mulai nge-post lagi. Weekend kemarin, gue sedang tidak di Jakarta, karena itu gue belum sempat menulis lagi. Tapi banyak ide 'berloncatan' untuk materi-materi yang pengen banget gue tulis di blog ini. Setelah beberapa hari memilah-milih akhirnya hari ini gue memutuskan untuk memilih tema Sejarah hari ini.
STOP!
Jangan berani-berani tinggalkan web ini karena tema-nya Sejarah! Gue yakinkan kalian semua kalau yang akan gue bicarakan bukan tentang tanggal, tahun, ataupun peristiwa. Percaya tidak percaya, gue sendiri sebagai mahasiswa sejarah juga bosan kalau pembahasan sejarah cuman berkisar di tiga hal itu aja.
Jadi kira-kira apa yang hari ini mau gue bahas?
Simple aja kok. Gue mau mengajak teman-teman sekalian untuk berpikir ulang tentang apa sih sebenarnya sejarah itu?
Jawaban yang paling klasik atas pertanyaan di atas adalah: Masa Lalu. Atau ada juga yang menjawab: Peristiwa-peristiwa penting yang sudah terjadi. Nah, gue sendiri bukan pakar atau ahli sejarah. Gue nggak belajar bagaimana caranya jadi sejarawan. Tetapi sebagai orang yang belajar sejarah, gue agak sanksi sama dua jawaban di atas. Karena itu gue ingin bertanya sama para pembaca: Benar nggak sih sejarah itu cuman sekadar masa lalu?
Gue akan menjelaskan sedikit mengenai apa yang ada di alam pikiran gue mengenai Sejarah.
Sejarah, sejauh yang gue pelajari, mempunyai tiga hal penting di dalamnya. Katakan tiga hal ini tiga unsur dalam sejarah, jadi secara logika, kalau salah satu dari tiga hal ini nggak ada dalam satu kejadian atau fenomena, berarti kejadian itu bukan sejarah.
Pertama, sejarah itu pasti berbicara tentang waktu. Waktu yang gue maksud di sini adalah masa lalu. Nah sampai disini, arti singkat dari sejarah di atas masih oke. Tapi masih belum cukup. Gue ngga akan menyebut-nyebut contoh sejarah yang kita pelajarin di sekolah ya. Kita coba ingat-ingat aja kejadian yang kita lalui sehari-hari.
Misalnya, kalian mengadakan reuni sama teman-teman SMP atau SMA. Nah, waktu kalian ketemu pasti bermacam-macam yang kalian obrolin. Tapi salah satu hal yang pasti kalian lakukan waktu bertemu teman lama adalah bernostalgia.
"Eh, inget nggak, pas kita kelas XI itu, kita bolos bareng-bareng pelajaran si pak anu. Pas ketauan di hukum, disuruh ngukur panjang lapangan pakai penggaris!"
Nah, kata-kata, 'pas kita kelas XI' itu merujuk pada waktu. Masa lalu. Artinya udah terjadi. Tapi kalau cuman itu, masih belom bisa disebut Sejarah. Jadi kita lanjut ke unsur kedua.
Yang kedua, Sejarah, selain membicarakan tentang waktu, pasti juga membicarakan ruang. Maksudnya ruang adalah tempat atau lokasi. Contohnya: "Eh dulu kita pergi study tour kemana ya? Pas si anu jatuh dari candi itu lho!"
"Oh itu di Jogja! Pas kita lagi di Candi Ratu Boko!" Nah, kalimat ini merujuk pada ruang, lokasi, tempat. Gue tau kalian pasti bertanya-tanya, "Terus bedanya kejadian sehari-hari sama sejarah apaan?"
Sabar, oke? Gue akan menjawab pertanyaan itu setelah gue jelasin unsur yang terakhir.
Unsur yang terakhir adalah manusia. Yang terakhir ini adalah yang terpenting dibanding dua unsur sebelumnya. Kenapa? Karena ini ciri-ciri yang paling menentukan. Kalau suatu peristiwa bukan terjadi karena aksi manusia, berarti itu bukan sejarah. Contohnya nih: bencana alam. Kayak Tsunami di Aceh tahun 2004, walaupun itu peristiwa besar dan menelan banyak korban, we can't exactly called it history, karena kejadian itu nggak disebabkan oleh tangan manusia.
Lah, terus apaan sih bedanya sejarah sama sosiologi? Buat apaan sih sejarah? Orang-orangnya pada udah mati juga ngapain diinget-inget? Tuh, pertanyaan yang begini nih yang bahaya. Ini sih pertanyaan orang-orang yang susah move on nih.. #eh
Jadi begini kawan-kawanku. Buat gue, sejarah itu bukan cuma sekedar tiga unsur diatas. Tiga hal yang sebutkan tadi itu penting, untuk mempelajari sejarah formal. Tapi gue nulis disini bukan untuk memberi thu kalian sejarah yang udah diajarkan di sekolah.
Terkadang orang yakin begitu aja kalau sejarah yang diajarkan di sekolah itu udah pasti benar. Well, gue bukannya bilang yang diajarkan di sekolah itu salah. Tapi begini singkatnya: Misalnya, ada mobil dan motor yang terlibat kecelakaan lalu lintas di jalanan. Kecelakaan kecil lah ya. Waktu polisi bertanya sama pengendara mobil, pengendara mobil menjawab, "Pengendara motor itu motong jalan saya dari arah yang berlawanan!". Tapi waktu polisi bertanya sama pengendara motor, dia jawab, "Mobil itu masih jauh. Tapi waktu saya mau belok itu mobil malah nge-gas!"
Permasalahannya, pas kejadian, si pak polisi nggak ada di tempat kejadian, jadi pak polisi nggak tau persis cerita yang mana yang benar. Pengendara mobil dan motor pasti sama-sama merasa benar. Terus siapa dong yang salah?
Yang gue ceritain itu adalah masalah beda perspektif. Kasarnya, cuman Tuhan deh yang tahu mana yang benar dan mana yang salah. Manusia cuman bisa dengar kejadiannya dan pilih salah satu versi yang dia percaya.
NAAH.. Sejarah juga sama. Begitu juga. Banyak versinya.
Kalian mungkin mikir, "Terus yang mana sejarah yang benar? Apa semuanya cuman tebak-tebak berhadiah?"
Jawaban yang bisa gue sediakan adalah, nggak penting yang mana yang benar. Waktu kita ada di posisi si pengendara mobil atau motor barusan, setelah kejadian tabrakan itu, idealnya kita bilang sama diri kita sendiri, "Oh, gue motong jalan orang ya? Oh, gue nge-gas tiba-tiba ya? Oh, mungkin gue kali yang salah. Oh, mungkin gue kali yang kurang hati-hati. Lain kali lebih hati-hati deh."
Idealnya siih, begitu. Jadi intinya, kita belajar melihat sesuatu bukan dari kacamata kita aja, tapi jadi kacamata orang lain juga. Walaupun kita pengendara mobil, kita harus coba berpikir dari kacamata pengendara motor, begitu juga sebaliknya.
Dalam sejarah, begitu juga. Waktu kita belajar sejarah rasisme di Amerika, kita bisa bilang, "Ih gila ya, nggak bener tuh. Jahat tuh! Masa gara-gara warna kulitnya hitam terus nggak punya hak ngapa-ngapain.."
Tapi ya jangan berenti sampai disitu aja. Percuma aja waktu kita belajar sejarah Rasisme di sekolah dan bisa bilang itu salah tapi ternyata di luar ruang kelas bisa bilang, "Ah, dasar CINA! Turun aja lu, nggak pantes lu megang jabatan itu!"
#EHEM
Oke, jadi balik lagi ke fokus. Kenapa sih gue ngomongin ini di post kedua? Pertama lah ya, berhubung ini materi pertama yang gue tulis di sini.
Kata-kata, "Coba deh lo bayangin! Coba deh lo ngertiin gue" itu adalah kata-kata yang paling sering kita dengar, tapi
Oke, jadi begitu saja post hari ini. Harapan gue adalah, setelah membaca tulisan gue hari ini, lebih mudah buat kalian untuk memahami post-post gue yang selanjutnya, karena baik dalam review novel, komik, film, maupun, drama, gue akan menjelaskan dengan cara yang sama, yaknii dari berbagai perspektif.
Makasih buat kawan-kawan yang masih betah baca post hari ini. Gue yakin kalian-kalian yang membaca tulisan ini sampai selesai adalah pembaca yang sabar atau kalian memang lagi ngga ada kerjaan.. HAHAHA
Untuk tulisan berikutnya, rencananya gue akan menulis tentang literatur, lebih tepatnya tentang:
~DONGENG~
Bingung? Penasaran? Atau bodo amat? :')
Please stay tuned and keep reading!


Komentar