Happily Ever After


Bagi teman-teman yang sering menonton kartun-kartun produksi Disney atau membaca dongeng, gue yakin akan merasa familiar sama judul post hari ini.. Happily Ever After. Kalau diartikan ke Bahasa Indonesia, kalimat ini ini kira-kira berarti “hidup bahagia selamanya.” Biasanya kalimat ini kita temukan di akhir cerita. Misalnya: “sang putri dan pangeran akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya.”

Nah, dulu waktu gue masih kecil, dan karena gue perempuan, gue disuguhin dongeng-dongeng asal Barat yang bertema-kan princess. Tapi rata-rata dongeng yang gue kenal adalah dongeng-dongeng produksi Disney. Semakin gue besar, gue baru tahu kalau ternyata dongeng-dongeng yang kita kenal waktu kecil itu banyak versinya.

Dongeng-dongeng versi Disney kebanyakan memiliki akhir cerita yang bahagia (happy ending). Karena ceritanya yang rata-rata bahagia ini, gue selalu punya mindset kalau yang namanya dongeng itu ya pasti buat anak kecil. Tapi akhir-akhir ini gue memikirkan ulang tentang tujuan dari dongeng sebenarnya.

Akhir tahun 2014, ada satu film Hollywood, yang sayangnya nggak ditayangkan di bioskop Indonesia. Gue nggak tahu, ini memang gue yang kurang teliti atau bagaimana, tapi setelah gue tunggu-tunggu, film ini nggak pernah keluar di bioskop Indonesia. Judul film ini adalah Into The Woods. Pertama kali gue tahu tentang film ini waktu melihat ulasannya di salah satu channel televisi kabel di rumah. Ada yang mewawancarai beberapa aktor nya dan mereka ngejelasin kalau film yang mengangkat cerita-cerita dari dongeng ini, agak berbeda dengan dongeng-dongeng yang kita kenal. Alih-alih berakhir di fase happily ever after, film ini justru menceritakan apa yang terjadi setelah fase happily ever after itu.

 Gambar diambil dari
http://entertainthis.usatoday.com/2014/12/25/cinderella-movies/

Karena penasaran sama konsep film-nya, akhirnya gue nonton film itu ketika sudah beredar di dunia maya (It’s considering ‘ngebajak’ so don’t do this at home :P).

Ada beberapa hal yang bikin gue agak kaget waktu nonton film ini. Hal yang pertama, karena gue menolak melakukan research lebih dalam sebelum menontonnya, gue baru tahu kalau ini film musikal setelah gue tonton langsung. Dan yang kedua, gue ngga menyangka jalan cerita film-nya bakal dibuat kayak gitu. Jauh dari yang gue bayangkan. (Nonton sendiri ya. Gue nggak mau terlalu banyak cerita supaya jatuhnya nggak spoiler.)

Film Into The Woods ini terdiri dari lima cerita yakni empat cerita yang diambil dari dongeng  yang sudah ada dan satu cerita fantasi yang dibuat khusus untuk film ini. Salah satu dongeng yang kita kenal dalam film ini adalah Cinderella. Tapi Cinderella yang diceritakan disini, beda versi dengan Cinderella yang kita mayoritas kenal, versi Disney.

Februari 2015, Disney me-release film Cinderella versi live action. Karena gue penasaran (kakak gue nonton film ini lebih dulu dari gue dan bilang kalau dia suka film ini), gue coba nonton ini di bioskop. Dan ternyata versi yang ini nggak jauh beda dengan yang di kartun.

Setelah nonton versi yang ini, gue mulai berpikir dan membanding-bandingkannya dengan Into The Woods. Akhirnya gue melakukan sedikit research tentang dongeng ini (baca: browsing di internet). Disitu gue mempelajari bahwa ternyata Cinderella punya banyak versi.

Bagi yang belum menonton kedua film ini mungkin bertanya-tanya, apa sih bedanya sampai gue kepikiran? Cinderella yang diperkenalkan oleh Disney menurut gue memang lebih cocok untuk diceritakan kepada anak-anak. Tapi, Cinderella yang diceritakan di Into The Woods, gue rasa lebih cenderung ditujukan untuk orang dewasa.

Cinderella yang diceritakan di Into the Woods ini kurang lebih terinspirasi dari Cinderella versi Grimm Bersaudara. Gue akan menjelaskan beberapa perbedaan dari Cinderella versi Disney dan versi Grimm Bersaudara.

Dalam versi Disney, ayahnya Cinderella meninggal dalam perjalanan, karena itu harta warisannya jatuh ke tangan ibu tiri Cinderella. Karena kematian ayahnya itu, terbuka lah kesempatan bagi ibu tiri dan saudara-saudara tirinya untuk nge-bully Cinderella. Sedangkan dalam versi Grimm Bersaudara, nggak dijelaskan bagaimana nasib ayahnya. Nggak pernah ada kalimat yang bilang kalau ayahnya kecelakaan atau meninggal. Jadi asumsinya, ayahnya Cinderella tahu kalau Cinderella di bully, tapi membiarkannya.

Selain itu, dalam versi Disney, Cinderella dibantu oleh Ibu Peri untuk menghadiri pesta dansa, yang entah muncul darimana. Tapi di versi Grimm Bersaudara, Cinderella berdoa dan meminta tolong ke makam ibunya, dan kemudian mendapat bantuan dari ‘hantu’ ibunya untuk pergi ke pesta dansa kerajaan.

Satu perbedaan lagi yang diceritakan dalam versi Grimm Bersaudara adalah bagian dimana kedua saudara tiri Cinderella mencoba mengenakan sepatu Cinderella (dalam versi ini bukan sepatu kaca). Kita semua tahu, kalau dalam versi Disney, sepatu ini nggak cocok dengan kaki kedua saudara tiri. Tapi yang bikin gue heran, dalam versi Grimm Bersaudara, sang ibu tiri mengambil tindakan ekstrim, yakni memotong beberapa jari kaki anak-anaknya, agar sepatu itu muat. Tapi pada akhirnya, si pangeran mengetahui kebohongan mereka karena darah mereka yang berceceran.

Sebenarnya masih banyak perbedaan dari kedua versi Cinderella ini. Tapi gue memutuskan hanya menjelaskan ketiga perbedaan di atas. Dari ketiga perbedaan yang gue sebutkan itu, kita bisa ambil kesimpulan, kalau Cinderella versi Grimm Bersaudara itu ‘less magical’ untuk anak kecil dibanding versi Disney. Gue malah berani bilang versi Grimm Bersaudara ini menyeramkan buat anak kecil.

Dari hasil perbandingan ini, gue akhirnya mencoba membaca beberapa dongeng yang ditulis oleh Grimm Bersaudara, dan gue menemukan banyak sekali dongeng-dongeng mereka memiliki unsur yang sama, yakni violence (kekerasan). Misalnya, dalam dongeng Pangeran Kodok, sang Kodok kembali ke wujud pangeran setelah dilempar ke dinding oleh sang putri, bukan dicium. Coba ya lo bayangin deh, dilempar ke dinding lho. Lucunya setelah itu mereka nikah dan hidup bahagia selamanya.

Masih banyak lagi contoh-contoh yang terlalu banyak untuk gue sebutkan dalam satu tulisan saja. Tapi yang pasti hal ini membuat gue berpikir ulang mengenai konsep dongeng, khususnya dongeng-dongeng yang ditulis oleh Grimm Bersaudara. Bukannya gue nggak pernah baca dongeng-dongeng karya mereka waktu gue masih kecil. Tapi gue jadi bertanya-tanya, kenapa setelah gue sudah besar gue baru menyadari betapa ‘serem’ nya dongeng-dongeng ini?

Disinilah gue menyadari seberapa besar pentingnya kita memahami konsep dongeng. Walaupun, secara teori, tujuan dongeng adalah menyampaikan pesan moral, bukan berarti dongeng itu target nya melulu tertuju kepada anak kecil. Dan salah satu hal lagi yang penting, kita juga harus paham kenapa si penulis dongeng bisa menulis seperti ini. Dengan kata lain kita harus paham bagaimana kehidupan si penulis, karena menurut gue, tulisan seseorang adalah cerminan kehidupannya. Seperti kata Adam Dundes, “[...[folklore is a people’s ‘symbolic autobiography’.  Folklore gives an “inside out” view of society.”[1]

Sayangnya, gue belum menemukan buku yang menceritakan tentang Grimm Bersaudara secara utuh. Kalau ada beberapa hal yang berhasil gue pelajari tentang mereka adalah bahwa mereka hidup di Jerman pada abad 18-19. Abad-abad ini adalah abad yang penuh gejolak di Eropa yang dikenal sebagai Abad Pencerahan. Disebut Abad Pencerahan karena ilmu pengetahuan dan kesenian berkembang pesat di Abad ini. Kehidupan ekonomi di zaman ini lumayan sulit karena tenaga kerja manusia saat itu mulai tergeser dengan ditemukannya mesin-mesin. Tapi justru dalam kondisi yang mendesak ini, muncul berbagai tokoh-tokoh penting di berbagai bidang.

Gambar diambil dari
http://en.wikipedia.org/wiki/Brothers_Grimm

Nah menurut gue, Grimm Bersaudara ini salah satu tokoh penting dalam Abad ini. Mereka lahir dalam keluarga besar yang terbentur kemiskinan waktu ayah mereka meninggal. Mereka berdua tetap mengejar ilmu pengetahuan dengan keadaan ekonomi yang pas-pas an dan mereka harus menerima perlakuan-perlakuan yang mendiskriminasi mereka karena keadaan ekonomi mereka yang kurang baik itu. Disitu kita bisa ambil benang merah antara dongeng-dongeng mereka yang rasa nya banyak mengandung unsur-unsur kekejaman dengan keadaan di Eropa saat itu.

Gue merasa dongeng-dongeng karya dua bersaudara ini memang lebih ditujukan kepada masyarakat Eropa, atau setidaknya masyarakat Jerman di zaman itu. Walaupun dongeng-dongeng mereka ini banyak mengandung unsur magis, tetapi sedikit banyak dongeng-dongeng mereka ini bercerita mengenai realita di Eropa di saat mereka hidup. Dan dongeng-dongeng ini berisi pesan-pesan moral untuk orang-orang dewasa yang moral dan idealisme nya udah banyak yang ‘bobrok’ karena masalah ekonomi.

Nah, yang gue coba untuk sampaikan dalam post hari ini sebenarnya, kadang-kadang kita, sebagai orang dewasa masih meremehkan dongeng. Kita suka mikir, “Dongeng itu buat anak kecil. Ngapain nonton Cinderella. Itu mah bacaan atau tontonan gue pas TK,” atau “Dongeng mah udah sering gue baca di soal-soal ujian Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris pas sekolah. Udah hafal lah, intinya gitu-gitu doang, nggak boleh jahat.”

Coba mulai sekarang buang jauh-jauh deh mindset yang kayak gini. Karena setelah gue menemukan dongeng-dongeng lain yang nggak pernah gue baca sebelumnya, gue jadi mikir, ternyata dibandingkan anak kecil, orang dewasa itu jauh lebih butuh, sering-sering baca dongeng. Serius deh.

Anak kecil tetap perlu dikenalin sama dongeng, walaupun harus dipilah-pilih. Gimana pun juga, bercerita itu adalah cara termudah untuk mengenalkan konsep baik dan buruk ke mereka. Tapi kenapa orang dewasa butuh juga baca dongeng? Karena ketika sudah dewasa, kita cenderung ngelupain dongeng-dongeng itu, dan pada akhirnya kita jadi lupa juga mengenai baik dan buruk, semuanya jadi abu-abu.

Mungkin dengan membaca dongeng-lah, orang dewasa bisa ingat lagi bagaimana rasanya jadi anak kecil. Mungkin dengan membaca dongeng-dongeng yang justru nggak happily ever after orang dewasa bisa ingat lagi, bagaimana seharusnya hidup dengan baik dan benar.

Gue nggak begitu yakin mengenai pandangan kalian para pembaca, dan gue terbuka akan kritik dan saran. Tapi seengganya begini lah kira-kira apa yang gue pikirkan mengenai dongeng.

Dan akhirnya, di penghujung tulisan gue hari ini yang panjang banget, gue mengajak kalian yang membaca post ini, ayo mulai membaca dongeng lagi! Mudah-mudahan tercerahkan ya!


[1] Dongeng atau cerita rakyat adalah “autobiografi simbolik”. Dongeng memberikan pandangan yang bertolak belakang dengan pandangan masyarakat.

Komentar

Postingan Populer