Menolak Menjadi Kupu-kupu

"Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda." –Soe Hok Gie 

Warning! This article contains a spoiler!

Selamat malam semua! Akhirnya, setelah sebulan lebih, gue hari ini menulis lagi. It's been a really busy month and honestly, it's still going on. Dalam sebulan terakhir gue disibukkan dengan berbagai macam tugas dan juga KKL (Kuliah Kerja Lapangan). Jujur aja otak gue mampet. Alhasil, nggak ada ide untuk nulis. Gue jadi jauh lebih sibuk untuk menjaga kesehatan.

Untungnya, tadi sore waktu gue sedang menyetir dalam perjalanan pulang dan dalam kemacetan sore hari, mendadak datang ilham untuk menulis di blog. Herannya ide-ide yang baik selalu muncul di saat yang sama dengan deadline tugas. Gue nggak mau ide ini 'ketiup' aja dari otak, jadi malam ini gue memutuskan untuk buru-buru nulis sebelum ngerjain tugas.

Setiap orang punya kesukaan tertentu, tapi gue sendiri bukan orang yang punya sesuatu hal yang benar-benar gue suka dengan fanatik. Gue suka musik, baca, nonton, game, dan gue juga nggak pernah membatasi apa yang gue dengar ataupun tonton. Salah satu kegemaran gue adalah baca komik. Nah, ide post-an kali ini berasal dari komik yang gue baca kira-kira sebulan belakangan.

Gue punya kebiasaan untuk mengecek setiap update-an terbaru di situs-situs komik online. Satu hari, kira-kira sebulan yang lalu, gue tertarik sama sinopsis salah satu komik yang berjudul ReLife. Dari segi genre, ReLife bisa diklasifikasikan ke sci-fi, salah satu genre yang tidak begitu gue sukai. Tapi di sisi lain komik ini juga bisa diklasifikasikan ke slice of life. FYI, gue sangat suka komik dengan genre slice of life Buat kawan-kawan yang nggak begitu familiar dengan istilah ini, begini definisi slice of life dari wikipedia:

"Slice of life is a phrase describing the use of mundane realism depicting everyday experiences in art and entertainment."

Singkat kata, film, komik, atau apapun itu yang ber-genre slice of life biasanya mengangkat sisi realisme dari kehidupan manusia ke dalam ceritanya. Secara bersamaan, komik-komik dengan genre ini bisa menjadi bacaan yang ringan maupun yang berat. Berikut ini gue akan mengulas sedikit tentang ReLife.



ReLife, bercerita tentang seorang pria berusia 28 tahun yang bernama Kaizaki Arata. Arata ini adalah seorang NEET (Not Employment, Education, or Training) alias pengangguran. Dari beberapa komik yang pernah gue baca sebelumnya, seorang NEET biasanya digambarkan dengan buruk dari segi kepribadiannya. Karena itu saat pertama gue membaca komik ini, kesan itu pula yang gue tangkap dari karakter Arata. Tapi setelah membaca lebih lanjut, ternyata justru sebaliknya.

Seorang NEET dari karakter di anime yang pernah gue tonton, mulai menjadi pengangguran sejak dia lulus (gue lupa SMA atau kuliah). Dia nggak mencari pekerjaan maupun kuliah. Kehidupannya dia habiskan untuk main game.[1] Pokoknya nggak produktif. Beda kasusnya dengan Arata. Arata rupanya pernah bekerja, tapi dia keluar dari pekerjaannya. Sejak itu dia kerja serabutan, part time di mana-mana, tapi nggak punya pekerjaan tetap.

Suatu saat, Arata didatangi oleh seorang pria bernama Ryo Yoake yang memberi tawaran yang nggak masuk akal. Arata ditawari pekerjaaan, dimana dia harus menjalani kembali kehidupan SMA. Tapi, jangan salah kaprah, komik ini sama sekali nggak menyebut-nyebut mesin waktu di dalamnya. Sebagai gantinya komik ini menggunakan semacam obat spesial sebagai sarana nya. Kalian tahu Detektif Conan yang badannya ciut karena minum obat? Nah, ReLife mirip seperti itu, tapi bedanya efek obat ini membuat perawakan Arata kembali menjadi remaja, bukan anak kecil. Lucunya, kemampuan fisik Arata tetap sebagai pria berumur 28 tahun. Jadi walaupun parasnya muda, secara fisik bisa dibilang dia lemah.

Karena ditawari sejumlah uang yang bernominal besar, Arata menerima tawaran Yoake. Masuklah Arata ke dalam eksperimen ReLife. Tujuan eksperimen ini adalah supaya Arata dapat menata kembali hidupnya. Seiring berjalan cerita kita mulai memasuki karakter Arata, yang ternyata punya kepribadian yang suci. Gue lebih suka menyebutnya suci, tapi mungkin orang lain menyebutnya naif (gue nggak begitu suka istilah ini karena konotasinya negatif bagi gue).

Ternyata program ReLife ini nggak sembarangan memilih NEET untuk dijadikan subjek eksperimen. Mereka melakukan research yang lama sampai akhirnya menemukan Arata sebagai subjek yang cocok. Belakangan kita bisa lihat, kalau Arata ini orangnya sangat peduli sekitar (terutama teman-teman terdekatnya) dan bermoral tinggi. Kalau boleh gue asumsikan, Arata ini orangnya idealis. Arata mempunyai sikap-sikap yang sulit untuk ditemukan di umur-umur sekian.

Sayangnya justru kelebihan dia ini lah yang menjadi penyebab kejatuhannya, awal mula dia menjadi NEET. Sampai terakhir gue baca komik ini, masih belum dijelaskan secara gamblang apa penyebab Arata keluar dari pekerjaan pertamanya. Tapi di beberapa chapter ada hal-hal yang mengindikasikan bahwa Arata melihat hal-hal yang nggak sesuai dengan idealisme nya di tempat kerjanya itu. Dan itu lah yang membuat dia mengundurkan diri, walaupun dia baru jadi karyawan dalam hitungan bulan.

Ini menjadi track record buat resume-nya Arata. Dia ditolak di setiap tempat yang dia lamar, karena dia nggak pernah bisa jawab alasan dia keluar dari perusahaan terdahulunya dalam kurun waktu 3 bulan.

Itu lah sedikit ulasan dari ReLife. Kalau penasaran kalian bisa searching dan baca sendiri, tapi yang menjadi fokus post kali ini adalah hal-hal yang udah gue sebutkan di atas.

Komik ini, bisa dibilang menggambarkan kecemasan-kecemasan gue sebagai mahasiswa tingkat tiga, yang sudah mulai dihadapkan pada pikiran-pikiran mengenai masa depan. Menjelang praktek kerja, banyak kecemasan-kecemasan yang muncul. Cemas akan ada banyak kontradiksi antara idealisme dan realita. Lebih cemas lagi kalau ternyata gue nggak bisa menghadapinya.

Nggak seperti komik-komik ber-genre romance-shoujo (kasarnya komik cewek)  maupun action-shounen (komik cowok), ReLife nggak menawarkan mimpi-mimpi muluk mengenai percintaan masa remaja yang terkesan sangat indah maupun pahlawan yang menyelamatkan dunia dengan semangatnya yang membara. Justru ReLife menunjukkan secara nyata hal yang kita sebut roda kehidupan.

Hal yang menurut gue paling disorot oleh penulis komik ini adalah manusia dan pilihan. Mana yang lo pilih? Lo tetep kerja tapi nggak banyak komentar atau lo nggak kerja tapi lo tetap jadi diri lo sendiri? Pilih jadi NEET dengan harga diri tinggi atau bekerja dengan siksaan batin? Yang menjadi permasalahan adalah, lo nggak mau mengikuti arus tetapi lo juga nggak punya kemampuan untuk mengubah arus itu. Waktu manusia memilih untuk mengikuti arus, mungkin itu titik balik dimana seorang idealis berubah haluan jadi realis. Titik balik, dimana sebuah kepompong bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Titik balik ketika seorang pemuda menjadi orang dewasa. Pada akhirnya semuanya bergantung pada pilihan. Dan mungkin Arata memilih untuk tetap jadi pemuda.

Pernah terlontar ucapan seperti ini dari mulut gue beberapa minggu yang lalu, “Kalau ini yang dinamakan menjadi dewasa, mendingan gue nggak usah jadi orang dewasa.” Menjadi dewasa itu suatu misteri. Tanpa lo sadari tiba-tiba lo jadi orang dewasa. Pada akhirnya, gue cuman bisa bertanya-tanya, sebenernya dewasa itu apaan sih? Yah, kalian simpulkan aja sendiri yaa.. Hahaha...

Di penghujung post kali ini gue cuma bisa berharap, semoga gue bisa jadi seekor kupu-kupu yang berjiwa seekor ulat!






[1] Baca komik atau nonton anime BTOOOM!!!

Komentar

Postingan Populer