Menolak Menjadi Kupu-kupu
Warning! This article contains a spoiler!
Selamat malam semua! Akhirnya, setelah sebulan lebih, gue
hari ini menulis lagi. It's been a really
busy month and honestly, it's still going on. Dalam sebulan terakhir gue
disibukkan dengan berbagai macam tugas dan juga KKL (Kuliah Kerja Lapangan).
Jujur aja otak gue mampet. Alhasil, nggak ada ide untuk nulis. Gue jadi jauh
lebih sibuk untuk menjaga kesehatan.
Untungnya, tadi sore waktu gue sedang menyetir dalam
perjalanan pulang dan dalam kemacetan sore hari, mendadak datang ilham untuk
menulis di blog. Herannya ide-ide yang baik selalu muncul di saat yang sama
dengan deadline tugas. Gue nggak mau
ide ini 'ketiup' aja dari otak, jadi malam ini gue memutuskan untuk buru-buru
nulis sebelum ngerjain tugas.
Setiap orang punya kesukaan tertentu, tapi gue sendiri
bukan orang yang punya sesuatu hal yang benar-benar gue suka dengan fanatik.
Gue suka musik, baca, nonton, game, dan gue juga nggak pernah membatasi apa
yang gue dengar ataupun tonton. Salah satu kegemaran gue adalah baca komik. Nah,
ide post-an kali ini berasal dari komik yang gue baca kira-kira sebulan
belakangan.
Gue punya kebiasaan untuk mengecek setiap update-an terbaru di
situs-situs komik online. Satu hari, kira-kira sebulan yang lalu, gue tertarik
sama sinopsis salah satu komik yang berjudul ReLife. Dari segi genre, ReLife
bisa diklasifikasikan ke sci-fi, salah
satu genre yang tidak begitu gue sukai. Tapi di sisi lain komik ini juga bisa
diklasifikasikan ke slice of
life. FYI, gue sangat suka komik dengan genre slice of life Buat kawan-kawan yang nggak begitu familiar dengan istilah ini, begini
definisi slice of life dari wikipedia:
"Slice of life is a phrase describing the use of
mundane realism depicting everyday experiences in art and entertainment."
Singkat kata, film, komik, atau apapun
itu yang ber-genre slice of life biasanya mengangkat sisi realisme dari kehidupan manusia ke
dalam ceritanya. Secara bersamaan, komik-komik dengan genre ini bisa menjadi
bacaan yang ringan maupun yang berat. Berikut ini gue akan mengulas sedikit
tentang ReLife.
ReLife, bercerita tentang seorang pria
berusia 28 tahun yang bernama Kaizaki Arata. Arata ini adalah seorang NEET (Not
Employment, Education, or Training) alias pengangguran. Dari beberapa komik
yang pernah gue baca sebelumnya, seorang NEET biasanya digambarkan dengan buruk
dari segi kepribadiannya. Karena itu saat pertama gue membaca komik ini, kesan
itu pula yang gue tangkap dari karakter Arata. Tapi setelah membaca lebih
lanjut, ternyata justru sebaliknya.
Seorang NEET dari karakter di anime yang
pernah gue tonton, mulai menjadi pengangguran sejak dia lulus (gue lupa SMA
atau kuliah). Dia nggak mencari pekerjaan maupun kuliah. Kehidupannya dia
habiskan untuk main game.[1] Pokoknya
nggak produktif. Beda kasusnya dengan Arata. Arata rupanya pernah bekerja, tapi
dia keluar dari pekerjaannya. Sejak itu dia kerja serabutan, part time di mana-mana, tapi nggak punya
pekerjaan tetap.
Suatu saat, Arata didatangi oleh seorang
pria bernama Ryo Yoake yang memberi tawaran yang nggak masuk akal. Arata
ditawari pekerjaaan, dimana dia harus menjalani kembali kehidupan SMA. Tapi,
jangan salah kaprah, komik ini sama sekali nggak menyebut-nyebut mesin waktu di
dalamnya. Sebagai gantinya komik ini menggunakan semacam obat spesial sebagai
sarana nya. Kalian tahu Detektif Conan yang badannya ciut karena minum obat?
Nah, ReLife mirip seperti itu, tapi bedanya efek obat ini membuat perawakan
Arata kembali menjadi remaja, bukan anak kecil. Lucunya, kemampuan fisik Arata
tetap sebagai pria berumur 28 tahun. Jadi walaupun parasnya muda, secara fisik
bisa dibilang dia lemah.
Karena ditawari sejumlah uang yang
bernominal besar, Arata menerima tawaran Yoake. Masuklah Arata ke dalam eksperimen
ReLife. Tujuan eksperimen ini adalah supaya Arata dapat menata kembali
hidupnya. Seiring berjalan cerita kita mulai memasuki karakter Arata, yang
ternyata punya kepribadian yang suci. Gue lebih suka menyebutnya suci, tapi
mungkin orang lain menyebutnya naif (gue nggak begitu suka istilah ini karena konotasinya
negatif bagi gue).
Ternyata program ReLife ini nggak
sembarangan memilih NEET untuk dijadikan subjek eksperimen. Mereka melakukan research yang lama sampai akhirnya
menemukan Arata sebagai subjek yang cocok. Belakangan kita bisa lihat, kalau
Arata ini orangnya sangat peduli sekitar (terutama teman-teman terdekatnya) dan
bermoral tinggi. Kalau boleh gue asumsikan, Arata ini orangnya idealis. Arata
mempunyai sikap-sikap yang sulit untuk ditemukan di umur-umur sekian.
Sayangnya justru kelebihan dia ini lah
yang menjadi penyebab kejatuhannya, awal mula dia menjadi NEET. Sampai terakhir
gue baca komik ini, masih belum dijelaskan secara gamblang apa penyebab Arata
keluar dari pekerjaan pertamanya. Tapi di beberapa chapter ada hal-hal yang mengindikasikan bahwa Arata melihat
hal-hal yang nggak sesuai dengan idealisme nya di tempat kerjanya itu. Dan itu
lah yang membuat dia mengundurkan diri, walaupun dia baru jadi karyawan dalam
hitungan bulan.
Ini menjadi track record buat resume-nya
Arata. Dia ditolak di setiap tempat yang dia lamar, karena dia nggak pernah
bisa jawab alasan dia keluar dari perusahaan terdahulunya dalam kurun waktu 3
bulan.
Itu lah sedikit ulasan dari ReLife.
Kalau penasaran kalian bisa searching dan
baca sendiri, tapi yang menjadi fokus post kali ini adalah hal-hal yang udah
gue sebutkan di atas.
Komik ini, bisa dibilang menggambarkan
kecemasan-kecemasan gue sebagai mahasiswa tingkat tiga, yang sudah mulai
dihadapkan pada pikiran-pikiran mengenai masa depan. Menjelang praktek kerja, banyak
kecemasan-kecemasan yang muncul. Cemas akan ada banyak kontradiksi antara
idealisme dan realita. Lebih cemas lagi kalau ternyata gue nggak bisa
menghadapinya.
Nggak seperti komik-komik ber-genre romance-shoujo (kasarnya komik cewek) maupun action-shounen
(komik cowok), ReLife nggak menawarkan mimpi-mimpi muluk mengenai percintaan
masa remaja yang terkesan sangat indah maupun pahlawan yang menyelamatkan dunia
dengan semangatnya yang membara. Justru ReLife menunjukkan secara nyata hal
yang kita sebut roda kehidupan.
Hal yang menurut gue paling disorot oleh
penulis komik ini adalah manusia dan pilihan. Mana yang lo pilih? Lo tetep
kerja tapi nggak banyak komentar atau lo nggak kerja tapi lo tetap jadi diri lo
sendiri? Pilih jadi NEET dengan harga diri tinggi atau bekerja dengan siksaan
batin? Yang menjadi permasalahan adalah, lo nggak mau mengikuti arus tetapi lo
juga nggak punya kemampuan untuk mengubah arus itu. Waktu manusia memilih untuk
mengikuti arus, mungkin itu titik balik dimana seorang idealis berubah haluan
jadi realis. Titik balik, dimana sebuah kepompong bermetamorfosis menjadi
kupu-kupu. Titik balik ketika seorang pemuda menjadi orang dewasa. Pada
akhirnya semuanya bergantung pada pilihan. Dan mungkin Arata memilih untuk
tetap jadi pemuda.
Pernah terlontar ucapan seperti ini dari
mulut gue beberapa minggu yang lalu, “Kalau ini yang dinamakan menjadi dewasa,
mendingan gue nggak usah jadi orang dewasa.” Menjadi dewasa itu suatu misteri.
Tanpa lo sadari tiba-tiba lo jadi orang dewasa. Pada akhirnya, gue cuman bisa
bertanya-tanya, sebenernya dewasa itu apaan sih? Yah, kalian simpulkan aja
sendiri yaa.. Hahaha...
Di penghujung post kali ini gue cuma
bisa berharap, semoga gue bisa jadi seekor kupu-kupu yang berjiwa seekor ulat!


Komentar