Perjalanan Sang Anak Hawa


Bukan, ini bukan puisi. Bukan juga cerpen. Entah ini apa. Hanya sepenggal kisah tentang seorang anak Hawa. Anak Hawa yang telah berjalan mengarungi padang pasir dalam waktu yang begitu lama. Bahkan si Anak Hawa tak ingat sudah berapa lama ia berjalan mengarunginya.

Ia tak selalu sendiri. Kadang ia berjumpa dengan pengembara lain. Berjalan bersama. Berbincang. Perjalanan jauh selalu menyenangkan bila ada yang menemani. Namun, pada akhirnya mereka berpisah jalan, mengembara seorang diri. Ada jalan yang lebih baik katanya. Padahal ya pasir-pasir juga.


Anak Hawa kadang bertemu dengan orang-orang ramah yang menawarkan makanan hangat dan tempat berteduh. Tentu saja sang Anak Hawa menyambutnya dengan senang hati. Tawaran-tawaran macam ini, bukan hanya menghangatkan badannya, tapi juga hatinya. Gagasan untuk tinggal dalam waktu yang lama menggoda, memang. Tapi esok paginya, ia memutuskan untuk berangkat lagi.

Tak jarang yang bertanya, “Mau kemana kau sebenarnya?”

Setiap ditanya, Anak Hawa selalu menunjuk ke arah ‘sana’.

Maka orang bertanya lagi, “Memang ada apa disana?”

Pertanyaan yang ini hanya dijawabnya dengan senyuman. Sang Anak Hawa menatap ke arah yang selalu ia tunjuk itu. Tak terlihat apapun selain ujung pasir dan cakrawala. Ia enggan mengakui, ia tak memiliki jawabannya. Pengembara-pengembara lain biasanya menyebrang, pergi ke negeri tetangga. Katanya ada bermacam-macam hal yang menjanjikan disana, apalah itu, Anak Hawa tak begitu paham. Banyak yang mengajak si Anak Hawa pergi menyebrang. Tapi lagi-lagi ia enggan. Kadang ada juga yang lelah, memilih untuk tinggal saja di rumah orang-orang yang ramah, tak lagi meneruskan perjalanan. Namun Anak Hawa juga tak ingin begitu.

Anak Hawa masih keras kepala, ingin mengembara seorang diri, walaupun entah kemana. Ketika terlalu lelah untuk meneruskan tetapi tak ada orang-orang ramah yang menawarkan tempat untuk berteduh, anak Hawa hanya berdiri diam di tengah-tengah padang pasir. Memandang ke depan, rasanya menakutkan. Berbalik ke belakang, begitu menyedihkan. Tak ada tempat untuknya. Manusia memang lemah dan menyedihkan.

Anak Hawa tidak mengerti mengapa ia harus melanjutkan perjalanan ini. Terlalu melelahkan. Terlalu membingungkan. Di hari-hari tertentu, Sang Anak Hawa terisak. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu satu-satunya yang ia inginkan hanyalah ‘pulang’. Namun tempat ia berangkat tak lagi terasa seperti rumah. Sang Anak Hawa sendiri lupa, darimana sebenarnya ia berangkat? Lantas kemana ia harus pulang?

Anak Hawa menghela napas. Mungkin itulah tujuan perjalanannya yang tak kunjung usai, untuk ‘pulang’. Maka, sang Anak Hawa menghapus air mata dari pipinya dan kembali berjalan. Bagaimanapun juga ia harus meneruskan perjalanannya. Pulang.

Komentar

Postingan Populer