Kelamnya Jendela Dunia
29
November 2015
Saluté!
I know it’s been months since my last
post. Bukannya nggak ada ide selama beberapa bulan belakangan. Hanya saja
gue terkena penyakit procrastinating alias
menunda-nunda. Setiap ada ide yang muncul di kepala, selalu ada saja alasan
untuk tidak langsung menuliskannya. Pada akhirnya gue melupakan ide itu atau
ide tersebut menjadi tidak terlalu menarik lagi.
Selain
terserang penyakit menunda-nunda, tiga bulan terakhir ini gue menghabiskan
banyak ide dan energi gue untuk satu hal. Mata kuliah yang harus gue ambil,
Alhamdulillah sudah gue selesaikan semua. Karena itu gue sudah sampai di
penghujung jalan, yakni kerja praktek (yang disebut Praktek Keterampilan Mengajar
atau PKM) dan skripsi. Nah, sejak bulan September, gue telah mennjalani tahap
yang pertama; mengajar.
Selama
mengajar di SMA 90 Jakarta, ada bermacam-macam hal yang bisa gue jadikan bahan
pengamatan. Dari sekian banyak hal itu, gue memilih dua hal yang berkaitan
untuk gue bahas di post kali ini,
yaitu buku dan perpustakaan. Post kali ini gue bagi menjadi tiga sub-judul untuk memudahkan kalian untuk memahami tulisan ini. So here it is!
A.
Buku
vs Gawai
Bagi
yang tidak tahu apa itu Gawai, istilah ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia
dari kata gadget. Hal-hal yang
termaksud gawai dalam tulisan ini yaitu smartphone, laptop, tablet, dan segala
perangkat media informasi dan komunikasi lainnya.
Dewasa
ini kita tidak bisa terlepas dari yang namanya gawai. Kalau kalian tidak
membawa smartphone kalian sehari
saja, sudah pasti kalian ketinggalan banyak informasi, baik berita besar maupun
informasi-informasi pribadi. Ketika ada suatu hal yang kita tidak pahami,
alih-alih bertanya pada orang lain, jauh lebih mudah untuk googling. Ketika sedang berkumpul bersama keluarga maupun teman,
dibandingkan bertukar pikiran dengan mereka, jauh lebih mengasyikkan untuk check in di Path atau mengunduh foto di
Instagram. Hal-hal ini sesungguhnya tidak hanya terjadi di dunia sosial tapi
juga dalam ruang lingkup pendidikan.
Sejak
penerapan Kurikulum 2013, siswa diharapkan untuk menjadi pihak yang aktif,
pihak yang mencari tahu. Mereka juga diharapkan untuk dapat melakukan analisis
dalam proses pembelajarannya. Namun, alih-alih kepada buku, siswa lebih
diarahkan kepada penggunaan internet.
Kebetulan,
gue dan teman-teman Mahasiswa PKM lainnya, ditempatkan di Perpustakaan di waktu
senggang. Dengan sedikit pengamatan, bisa gue simpulkan kalau perpustakaan
lebih identik sebagai tempat untuk ‘ngadem’ dibanding untuk membaca. Tentu saja
ada beberapa anak yang datang untuk membaca atau mengerjakan tugas, walaupun
hanya segelintir. Namun, sebagian besar datang ke perpustakaan untuk
menggunakan WiFi (dengan berbagai
alasan penggunaan), ‘ngadem’, gosip, membolos, atau bahkan tidur. Pada akhirnya
manfaat buku di perpustakaan tidak pernah benar-benar tercapai secara maksimal.
B.
Library
Wars: Love and War
Oke..
Kita masuk ke topik utama kita kali ini; Library Wars. Dalam Bahasa Indonesia,
secara harfiah kata ini dapat diterjemahkan menjadi ‘Perang Perpustakaan’. Dua
kata itu entah kenapa memang agak terasa janggal, kecuali kalian memahami
maknanya.
Library
Wars atau Toshokan Senso adalah judul sebuah light-novel yang telah
diadaptasi ke berbagai media seperti manga, anime, OVA, dan live-action movie.
Toshokan Sensou membawa kita ke kehidupan di Jepang di masa depan, dengan
kondisi yang jauh berbeda dengan sekarang. Pada tahun 1989, Pemerintah Jepang
mengeluarkan Undang-undang Perbaikan Media (dalam Bahasa Inggris Media Betterment Act atau MBA). MBA
mengacu kepada aktivitas sensor media dalam bentuk apapun yang dianggap
berpotensi merusak moral, ideologi, kesehatan jiwa, dan ancaman bagi negara
secara mental. Diberlakukannya MBA merupakan tanda dari suatu Era baru yang
disebut Era Seika (era fiksi).
Puncak
dari diberlakukannya MBA adalah peristiwa penyerbuan ke salah satu perpustakaan
terbesar di Jepang oleh pasukan MBA. Penyerbuan ini dilakukan dengan brutal.
Seluruh buku di perpustakaan itu dibakar. Terjadi pertumbahan darah pula. Meski
begitu, peristiwa kelam ini justru menimbulkan semangat juang untuk melindungi
perpustakaan. Karena itu, pemerintah lokal melawan MBA dengan mendirikan
Pasukan Pertahanan Perpustakaan (Library
Defense Force atau LDF) yang bertujuan untuk melindungi perpustakaan dari
sensor. Konflik antara pasukan MBA dan LDF ini terus berlangsung hingga awal
cerita seri ini, yakni pada tahun 2019.
1.1 Poster Library Wars Live-Action
Tokoh
protagonis Library Wars adalah seorang gadis berumur 22 tahun bernama Kasahara
Iku. Iku adalah salah satu anggota dari pasukan LDF. Oleh alasan tertentu, Iku
memiliki keyakinan bahwa sensor yang dilakukan pasukan MBA merupakan tindakan
yang menghalangi kebebasan, baik dalam berekspresi maupun berpikir. Karena nya
tindakan sensor merupakan tindakan yang salah
bagi Iku.
Tujuan
dari MBA itu sebenarnya bagus. Gue rasa sudah jadi rahasia umum, bahwa
kerusakan mental di era globalisasi ini, nggak bisa dipungkiri, salah satunya
disebabkan oleh media. Anak-anak mengenal kata-kata kasar dari televisi. Anak
remaja dengan mudah mengakses website porno. Kalau gue sebutin alasannya
disini, bisa banyak banget.
Dalam
Library Wars, ditunjukkan contoh-contoh penggunaan media yang memang dapat
mengarah pada kerusakan mental. Misalnya, di awal cerita, Iku memergoki seseorang
menggunting gambar-gambar dari beberapa majalah dewasa, untuk dia jual. Dilihat
dari segi manapun, media disini membawa dampak negatif.
Disatu
sisi tindakan sensor menjadi hal yang baik, tapi disisi lain menjadi hal yang
berlebihan. Misalnya saja, pasukan MBA, memasukkan sebuah buku dongeng dalam
daftar sensor, karena pahlawan dalam cerita itu memenggal monster naga. Hal ini
dianggap terlalu sadis dan buku itu hampir disita hanya karena itu.
Sebagai
mahkluk yang memiliki akal, seharusnya manusia diberikan kesempatan untuk
berpikir dan memilih sendiri jalannya. Namun, bagaimanapun juga pengeksposan
informasi dan pendapat tanpa batasan juga bukan jalan yang sepenuhnya benar.
Pasukan MBA percaya bahwa dengan melakukan sensor pada materi-materi yang
berbahaya, masyarakat Jepang akan menjadi masyarakat yang bermoral tinggi serta
sehat mentalnya. Tapi bagaimana dengan teror yang diakibatkan oleh
penyerbuan-penyerbuan yang dilakukan pasukan MBA di perpustakaan serta di
toko-toko buku? Bukannya hal ini menimbulkan trauma?
Di
titik inilah kita mengalami dilema. Dengan memberikan kebebasan tanpa batasan,
masyakarakat cenderung amoral, tapi dengan melakukan batasan masyakat jadi
cenderung bodoh. Pengarang Library Wars, Hiro Arikawa, menyuruh kita untuk
memilih, untuk jadi manusia yang bebas dengan moral buruk atau menjalani
kehidupan yang aman tapi sebagai robot yang diatur?
C.
Refleksi
Setelah
membaca dan menonton Library Wars, gue jadi membayangkan bermacam-macam hal.
Banyak pertanyaan, “Gimana kalau...?” muncul di otak gue. Manga dan live action
dari Library Wars nggak terlalu terkenal. Bahkan rating live-actionnya agak
rendah. Jujur aja, gue heran banget, karena menurut gue ceritanya sangat
menarik. Action di versi
live-actionnya bagus dan nggak ‘abal-abal’. Gue bahkan berani merekomendasikan
film ini sebagai live-action terbaik setelah Rurouni Kenshin.
Tapi
setelah gue pikir-pikir lagi, mungkin cerita ini nggak terlalu terkenal karena
pada dasarnya topik mengenai buku atau perpustakaan terdengar membosankan.
Sebaliknya topik-topik yang berkaitan dengan Artificial Inteligence seperti dalam film Avengers: Age of Ultron
dan ex-machina atau anime Psycho-Pass terdengar jauh lebih menarik.
Bagi
gue, kekuatan sebuah buku nggak kalah dengan kepintaran buatan, yang akhir-akhir
ini sering sekali menjadi isu di berbagai judul film Hollywood. Apa alasan gue
berpendapat seperti itu?
Memang,
nggak bisa gue bantah, dari segi kecepatan dalam mendapatkan informasi,
internet jauh lebih unggul. Tapi ada alasan-alasan tertentu kenapa buku menjadi
sorotan utama dalam Library Wars.
Pertama,
informasi dan pengetahuan dari buku jauh lebih terpercaya. Internet dapat
dijangkau oleh siapa saja dan siapa saja dapat menulis informasi yang benar,
salah, asli, maupun palsu tanpa harus melalui pemeriksaan lebih jauh. Karena
itu, tidak jarang informasi di media maya menjadi simpang siur, dan ternyata
ujung-ujungnya Hoax.
Kedua,
secara fisik, buku lebih kekal dibandingkan informasi atau pengetahuan di dunia
maya. Setiap informasi yang ada di dunia maya sewaktu-waktu dapat dicabut
dengan berbagai alasan. Dengan bekal pengetahuan IT, sangat mudah untuk menghapus, menambah, maupun memodifikasi apapun
yang ada di dunia maya. Untuk membentuk opini masyarakat, internet merupakan
alat merupakan sasaran empuk. Sebaliknya, untuk menghapus keberadaan suatu buku
atau mengubah isinya, membutuhkan biaya dan tenaga fisik yang besar.
Ketiga,
hal-hal yang berbau elektronik maupun mesin sewaktu-waktu dapat mengalami
kekeliruan atau error. Ketika error terjadi, buku yang bersifat manual
menjadi jauh lebih berharga.
Karena
alasan-alasan di atas lah mengapa dalam Library Wars, buku dianggap sebagai
ancaman yang besar dan menjadi sorotan utama. Yang menjadi pertanyaan adalah,
bagaimana kalau MBA benar-benar diberlakukan di dunia nyata? Apakah orang-orang
akan peduli? Orang-orang yang lebih memilih untuk googling dibandingkan sedikit bersabar dengan membaca buku?
Orang-orang yang menganggap perpustakaan sebagai tempat yang asing? Orang-orang
yang memilih untuk menjejalkan smartphone
dibandingkan membacakan dongeng kepada anak-anaknya? Entahlah.... Yang penting tetep bisa upload foto kan?




Komentar